Rutinitas setiap hari, bangun pagi siap-siap untuk berangkat beraktivitas di tempat kerja hingga larut malam.
Seperti biasa pagi jam berangkat, jakarta selalu menghadirkan kemacetan dengan kesibukan manusianya untuk mengais rejeki di kota besar ini.
Sampai pada suatu saat di kemacetan jakarta saya melihat seorang bapak tua pekerja penyapu jalan dengan seragam orangenya sambil membawa sapu dan sebuah karung untuk mengumpulkan sampahnya sedang memunguti sampah dijalan yang bukan lain adalah sampah kita semua yang dengan sengaja atau tidak kita buang dijalan.
Dengan keringat yang mengalir dari dahi bapak tua itu, dia terus memunguti sampah-sampah itu.
Bapak tua itu tidak mengenal kata menyerah, jijik dan lelah walau teriknya matahari pagi dan asap kendaraan, dia terus membersihkan jalan, hingga semua terlihat bersih.
Sepertinya saya patut mencontoh bapak tua tadi, dia berjuang hidup di kota jakarta ini demi untuk bertahan hidup.
Jangankan untuk membahagiakan keluarga, untuk bertahan hidup saja itu kata yang sudah sangat cukup untuknya.
Cobalah kita lihat diri kita sekarang, bekerja dan berpenghasilan lebih dari cukup mungkin.
Bandingkanlah kita dengan bapak tua tadi, maka kita akan tahu betapa beruntungnya kita yang masih diberi kemudahan hidup.
Bersyukurlah kita masih bisa membahagiakan dan dibahagiakan orang tua kita.
Jangan sia-siakan kesempat yang hanya sekali dalam hidup ini.

Respect your old man then you will know what life is

Sent from SocialScope – http://getsocialscope.com/

Advertisements